Menulis: Idealisme atau Uang?

Ada sebagian orang dengan bangga menyatakan menulis baginya bukan untuk tujuan komersial. Ia cuma ingin  menyalurkan hobi atau idealisme, katanya.

Sebagian lagi menyatakan, menulis hanya untuk menyumbangkan gagasan dan pemikiran bagi masyarakat. Bukan demi uang.

blog-content-pic1

Dan sebagian lagi pernah saya dengar menyebutkan, menulis baginya karena ingin mendidik masyarakat melalui tulisan. Atau seperti kata salah seorang teman saya, ia menulis hanya karena ingin berdakwah. Juga bukan karena bertujuan mencari uang.

Menurut saya, sikap-sikap seperti disebutkan di atas itu tidaklah keliru seratus persen. Siapa saja boleh memasang sikap dan pendapatnya sesuai dengan yang diyakininya.

Tetapi dari pengalaman juga membuktikan penulis yang mendasarkan keinginan menulis hanya dari idealisme saja, tidak akan pernah bertahan lama. Ada dua hal yang bisa ditarik dari sikap penulis semacam itu.

1. Ia menyatakan tidak suka pada uang.Langsung atau tidak. 2. Ia Menganggap idealisme adalah sikap yang sangat mulia

Dari kenyataan itulah maka timbul pelanggaran hukum alam. Begini:

Siapa pun yang menjalani kehidupan pasti dituntut untuk mempunyai sikap ideal, tetapi ia juga harus menjalankan kehidupan yang bersifat praktis. Intinya seseorang itu harus tahu kapan ia ber-idealisme dan kapan pula harus bersikap praktis.

Selain itu selalu ada fakta yang menjadi watak dasar kita sebagai manusia adalah selalu menginginkan barang-barang yang bersifat materi atau kebendaan. Materi atau kebendaan dalam kehidupan kita paling banyak bisa diwujudkan adalah dengan uang.

Jadi kalau hampir semua orang butuh uang,  saya pikir wajar-wajar saja. Memang begitu faktanya sebab kita memang butuh bertahan hidup dengan benda-benda yang kita perlukan tadi.

Satu fakta lain yang tidak bisa dibantah adalah motivasi terbesar yang mampu menggerakkan orang untuk melakukan perbuatan tertentu adalah adanya iming-iming berupa: uang.

Karena itu jika kita terlalu megedepankan idealisme saja kita akan ditinggal oleh dunia dan lingkungan bahkan oleh benda-benda yang kita butuhkan. Selain itu kalau orang sudah menyatakan tidak suka pada uang, maka logikanya adalah orang itu tidak mungkin akan bisa memiliki uang, sebab kita tidak bisa memiliki sesuatu yang kita sendiri tidak suka.

Buntutnya kalau kita tidak butuh uang, kita akan kehilangan salah satu motivasi yang cukup besar. Kalau kita kehilangan motivasi, maka sedikit demi sedikit habis juga motivasi lainnya, bahkan bisa  seluruhnya hilang. Kalau sudah demikian halnya, tak ada lagi yang bisa atau yang mampu kita kerjakan. Sebab sekecil apapun pekerjaan, ia selalu butuh motivasi sebagai alat pendorong untuk maju terus dan menyelesaikan pekerjaan kita.

Kesimpulannya kita memang harus selalu memelihara idealisme tetapi kita juga harus pintar membuat idealisme itu menjadi sesuatu ayng praktis dalam kehidupan. Misalnya mengubah idealisme  menjadi uang. Jadi tetaplah menulis sebagai ajang mewujudkan idealisme Anda kemudian menjualnya menjadi uang. Sebab menulis juga membutuhkan kertas yang harus dibeli dengan uang. Atau balikkan: kita mencari uang tanpa harus kehilangan idealisme.

Salah seorang mahasiswa pernah dengan gagah menyatakan ia menulis tidak pernah berharap mendapatkan honorarium. Dimuat, katanya, adalah kepuasan tertinggi, katanya. Saya jawab, bagus. Teruskan saja! Tetapi tidak sampai enam bulan tulisan-tulisannya lenyap dari media di mana ia biasa menulis.

Saya pikir, siapa mau kerja bakti terus-terusan tanpa digaji. Sekali duakali bolehlah, tetapi terus menerus, siapa yang tahan? Jadi kalau Anda menulis dan berharap mendapatkan honorarium, berbanggalah. Karena artinya Anda normal. Mendapat uang bukan keburukan. Sekalipun Anda mengatakan uang adalah sumber kejahatan, tetap saja uang yang Anda peroleh selalu akan  berguna juga. (Baca juga Siapa Suka Menulis Artikel )

Gaya Bahasa Adalah Kekuatan

Gaya Bahasa sebuah tulisan atau gaya bahasa si penulis sangat menentukan sebuah tulisan itu menarik atau tidak. Dalam jenis tulisan apapun, gaya bahasa memegang peran penting.

Ketika anda membaca sebuah tulisan (sebuah cerita atau satu artikel) misalnya. Apa yang menarik dari tulisan itu?  Barangkali  anda  menjawab: tema-nya (menarik), atau  Gaya Bahasa (dari si penulis).

Jelas, ya? Memang dua hal itu menentukan sebuah tulisan  menarik atau tidak. Tema dan Gaya Bahasa  penuturannya memegang peran sangat penting.

Benar, Gaya Bahasa merupakan factor paling penting agar sebuah tulisan enak dibaca. Kalau  Anda sudah memiliki  teknik menulis, semua ide akan mengalir dengan sendirinya. Tentulah tulisan itu akan menjadi hidup. Sebuah tulisan dengan  style  yang khas akan mengikat pembaca untuk tetap meneruskan membaca sampai akhir kalimat.

Rasanya itulah rahasia terbesar dari teknik menulis. Meskipun ada penulis ternama menyatakan bahwa “konflik” dalam sebuah tulisan merupakan daya tarik yang kuat, tetapi kalau tidak didukung dengan Gaya Bahasa yang tepat, meski ada sebuah konflik sekalipun, sebuah tulisan tetap saja akan menjadi sia-sia.

Bicara tentang Gaya Bahasa  atau style (kata orang) hal itu berbanding lurus dengan  kehidupan nyata. Dalam kehidupan fantasi,  style atau gaya  dalam tulisan adalah ruh. Demikian pula dalam kehidupan nyata, dalam kehidupan sehari-hari, ketika orang berbicara menggunakan teknik berbicara  yang bagus, omongannya jadi sangat menairk. Taruh kata isi pembicaraan Cuma biasa-biasa, tetapi karena Gaya Bahasa  atau cara bicaranya yang bagus, setiap kalimat orang itu terasa amat menarik.

Tetapi memang, perlu diingat, membangun sebuah Gaya  itu tidak gampang, kendati bisa dipelajari oleh setiap orang yang berminat menjadi penulis (yang) baik.

Lepas dari semua yang disebutkan diatas, ciri khas sebuah tulisan tetaplah dibutuhkan. Seperti disebutkan dimuka, dalam kehidupan fantasi (imajiner) maupun dalam kehidupan nyata Gaya Bahasa lah yang secara nyata telah memberikan sumbangan terbesar dalam kemajuan dunia penulisan.

Jadi, baiklah. Semua itu Cuma berarti satu. Bagi seorang penulis,  untuk tetap mengikat pembaca pada tulisannya,  maka pandai-pandailah membangun style  yang baik. Sekalipun tidak mudah tetapi masih bisa dipelajari. Caranya? Banyak membaca tulisan dari penulis-penulis yang baik. Cari dan temukan. Banyak kok penulis bagus di dalam negeri maupun di luar negeri. Ada saran, awalnya tiru saja  model mereka, cara menulis, kalau tahu juga caranya berbicar. Jadikan ia model tulisan Anda. Gaya dari penulis yang Anda sukai itiu akan hidup dalam diri Anda.  Yach…memang, mulanya meniru. Tetapi lama kelamaan Anda pasti menemukan Gaya Bahasa sendiri yang sesuai dengan kepribadin sendiri.

Cara Menulis Kita

Cara Menulis adalah dua kata yang memiliki kekuatan ajaib. Karena kata-kata atau pun kalimat, setiap orang sudah memiliki di dalam perbendaharaan kata di memori atau ingatan mereka. Tetapi cara menulis lah yang yang membuat sebuah tulisan itu menarik atau tidak menarik. Karena cara menulis berbeda, efeknya juga berbeda.

Di jaman dulu ada pepatah yang sangat terkenal berbunyi, “Sebatang pena adakalanya lebih kuat dari sebuah senapan”.

Itu dulu, tetapi rasanya sekarangpun pepatah itu masih tetap relevan dengan situasi kita. Kata “pena” sebenarnya merujuk kepada “kata-kata”. Jadi semua artinya tetaplah sama. Pena di jaman dulu, menunjuk kepada kata-kata yang ditulis. Sekarangpun kita menulis kata-kata. Dan bagaimana cara menulis, itu yang penting.

Sekarangpun secara umum orang sudah mengenal adanya dua kekuatan yang bisa mengubah dunia. Pertama adalah kata-kata, yaitu kekuatan kata-kata yang dilahirkan dalam bentuk tulisan.
Ungkapan atau kata-kata yang diucapkan para pemimpin sudah terbukti bisa menimbulkan perang atau damai. Yang kedua adalah senjata. Di dalam sejarah sudah terbukti pula, kekuatan senjata mampu menimbulkan perang atau damai.

Sama kan dengan kata-kata yang kita miliki. Senapan itu senjata hebat. Tetapi efeknya tergantung bagaimana cara menggunakannya. Ia bisa berakibat baik atau buruk tergantung Cara menggunakannya. Demikian pula dengan kata-kata. Bagaimana cara menulis kan kata-kata itu yang punya dampak luar biasa.

Dari sebab itu bagaimana cara menulis di media massa cetak sejak jaman Yunani kuno juga telah terbukti memiliki kekuatan ampuh mempengaruhi masyarakat. Efek sebuah tulisan juga sangat luar biasa. Jaman moderen sekarang ini sudah berulangkali terbukti banyak pemimpin yang jatuh dari puncak kekuasaan hanya karena kata-katanya yang salah atau kata-kata yang ditulis orang lain di media massa. Sebaliknya seorang yang biasa-biasa saja namanya bisa meroket ke atas dan akhirnya memegang kekuasaan, juga hanya karena kata-kata yang diucapkan. Itulah ajaibnya kata-kata. Tetapi ingat! Dampak hanya timbul oleh bagaimana cara menulis-nya.

Jadi, mengapa Anda tidak menulis? Menulislah! Banyak keuntungan akan didapat dari menulis.
Saya meyakini sampai hari ini arti dari sebuah kalimat yang menyatakan: “Sebatang pena bisa menjadi lebih kuat dari sebuah senapan.” Segeralah.ambil Pena Anda (maksudnya computer), dan Menulislah! Pikirkan juga cara menulis kata-kata Anda itu.

Visit

Today Today 37
Yesterday Yesterday 57
This Week This Week 215
This Month This Month 20,170
All Days All Days 123,257
 

sposor